Ahad, 20 Apr 2014
Pilih Bahasa :
Indonesia English

HASTO KRISTIYONO, PRESIDEN DIREKTUR PT SUMBERDAYA SEWATAMA


Oleh: Reno Dalu Maharso

Ada perasaan berdosa tatkala waktu yang seharusnya bisa dimanfaatkan berkumpul bersama keluarga, ternyata tersita untuk urusan pekerjaan. “Saya sedih ketika pulang kerja melihat anak-anak saya sudah terlelap,” katanya. Namun ia punya cara untuk menebus dosa itu.

Jakarta, GEO ENERGI - Menjadi Presiden Direktur PT Sumberdaya Sewatama yang bergerak di bidang power solutions membuat Hasto Kristiyono selalu disibukkan oleh urusan pekerjaan. Namun ia menyadari bahwa hal itu merupakan konsekuensi yang harus ia jalani. Sebab, sebelum berada di puncak pimpinan, Hasto menempuh jalan yang panjang.

Setelah lulus dari mechanical engineering Universitas Gadjah Mada (UGM), Hasto melamar di pertambangan Freeport. Di sana ia mendapat tanggung jawab merawat alat-alat berat. Setelah beberapa tahun bekerja di Freeport, Hasto pindah ke Komatsu. Hasto kemudian pindah bekerja ke Trakindo sebelum akhirnya menjejakkan kaki di General Electric (GE). Di GE, Hasto justru bekerja di bidang marketing business development.

Usaha Hasto di GE juga banyak berurusan dengan pengembangan sektor energi. “Di akhir karir saya di GE waktu itu saya diminta mengembangkan bisnis oil and gas yang opportunity-nya masih alat berat tapi dekat sekali dengan power innovation, sehingga pada saat diminta untuk menjalankan Sewatama saya kira itu adalah sebuah kelanjutan dari apa yang kita bangun dari awal,” ungkap Hasto.

Hasto semakin yakin untuk terjun ke dunia power solution karena ia melihat kondisi negara yang sangat membutuhkan listrik. “Demand listrik itu tumbuh sekitar 90 persen, supply-nya hanya tumbuh sekitar 34 persen sehingga itu membuat saya memutuskan untuk terjun ke dunia ini,” tutur Hasto.

Kesibukan sehari-harinya tidak jarang membuat Hasto sedih karena tidak bisa menghabiskan waktu bersama keluarga. “Buat saya, pada saat saya pulang dan melihat anak sudah lelap, itu membuat saya sedih,” ungkap Hasto. Namun ia membayar ketiadaan dirinya bagi keluarga di akhir pekan. Hasto memiliki agenda sendiri untuk menghabiskan quality time bersama keluarga. Hasto senang menonton film atau main musik bersama.

Ketika ditanya tentang angan-angannya, Hasto mengaku ia ingin mengajar. Ia juga ingin tinggal di tempat yang tenang, jauh dari hiruk-pikuk kota saat pensiun. “Saya ingin tinggal di desa, berkebun atau bertani, solat, baca Al-Qur’an, main musik klasik atau jazz. Lalu saya ingin mengajar dalam artian bukan mencari uang tetapi untuk sharing apa yang sudah saya kerjakan dan pelajari,” kata Hasto.

Selain keinginannya untuk mengajar, Hasto pun memiliki minat besar dalam dunia tulis-menulis. Hasto adalah seorang blogger, namun ia mengaku belum serius ngeblog karena padatnya pekerjaan. Ia juga memiliki minat untuk menulis buku. “Saya bikin buku juga tentang ibu saya,” tutup Hasto.

Majalah Geo Energi Edisi Terbaru

Hampir satu dasa warsa terbengkalai, proyek gas pipa Kalimantan-Jawa (Kalija) akhirnya jalan. PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) menjadi juru selamat, melanjutkan proyek yang

Berlangganan