Senin, 20 Oct 2014

BBM Naik, Biaya Produksi Terkerek 1,2 Persen


nation.com.pk

Pardosi

Jakarta, GEO ENERGI - Keputusan pemerintah untuk menaikkan harga BBM subsidi dipastikan tidak akan mengganggu sektor industri. Harga BBM premium yang menjadi Rp 6.500 dan solar menjadi Rp 5.500/liter hanya akan menaikkan biaya produksi sebesar 1,2 persen saja.

"Kalau BBM premium dinaikkan jadi Rp 6.500 atau 44%, maka akan berdampak terhadap biaya transportasi 23,8% dan 11,9%. Namun hanya akan menyebabkan kenaikan biaya produksi rata-rata 1,2%," kata Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian Ansari Bukhari.

Hal itu dikatakan Ansari pada pemaparan dampak kenaikan harga BBM terhadap industri di Kantor Kementerian Perindustrian, Jakarta, Rabu (5/6/2013). Dia melanjutkan, dengan rata-rata kenaikan tersebut, yang paling terasa terkena dampak ialah industri di sektor tekstil dan alas kaki yang akan meningkatkan biaya produksi sebesar 1,54%. Sedangkan beberapa komoditi strategis seperti makanan dan minuman hanya naik sebesar 0,63%, semen sebesar 0,66%.

Menurut Ansari, untuk kenaikan solar menjadi Rp 5.500/liter akan mengerek biaya produksi rata-rata sebesar 0,6%. Beberapa komoditi stretegis seperti industri makanan dan minuman hanya akan naik sebesar 0,31%, semen sebesar 0,33%, serta alas kaki dan tekstil sebesar 0,77%. "Dengan demikian, kenaikan harga BBM baik premium mapun solar tidak akan berdampak secara signifikan terhadap kenaikan biaya produksi sektor industri.”

Dia menambahkan, dampak yang tidak signifikan bisa terjadi karena beberapa sektor industri tersebut mayoritas tidak lagi menggunakan BBM bersubsidi. Dia mengklaim, biaya produksi tersebut lebih disebabkan karena meningkatnya biaya transportasi. "Karena industri sudah tidak menggunakan BBM bersubsidi, jadi tidak begitu akan mempengaruhi. Namun pasti akan berdampak pada sektor transportasi,” demikian Ansari.